ad

Gagal Ginjal Kronis

Gagal ginjal kronis merupakan kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang berlangsung pelahan-lahan karena penyebab berlangsung lama dan menetap yang mengakibatkan penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) sehingga ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit. Adapun yang menjadi penyebab gagal ginjal kronik antara lain infeksi, penyakit peradangan, penyakit vaskuler hipersensitif, gangguan jaringan penyambung, gangguan kongenital dan heriditer, gangguan metabolisme, nefropatik toksik dan neoropati obstruksi. Gagal ginjal kronik terjadi setelah sejumlah keadaan yang menghancurkan masa nefron ginjal. Keadaan ini mencakup penyakit parenkim ginjal difus bilateral, juga lesi obstruksi pada traktus urinarius. Mula-mula terjadi beberapa serangan penyakit ginjal terutama menyerang glumerulus (glumerulonefritis), yang menyerang tubulus ginjal (pyelonefritis atau penyakit polikistik) dan yang mengganggu Prognosa gagal ginjal kronis Pada penyakit gagal ginjal dini (mikroalbuminuria) sudah mempunyai prognostik morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Dengan memberatnya kelainan ginjal, disertai dengan penurunan fungsi ginjal, prognosis terbukti semakin buruk, menuju gagal ginjal yang memerlukan dialisis, komplikasi organ target yang mengurangi kualitas hidup dan meningkatkan angka kematian. Penatalaksanaan gagal ginjal kronis Pada tahapan gagal ginjal kronik gangguannya tergantung dari kerusakannya, antara lain dengan memperhatikan faal ginjal yang masih tersisa. Bila faal ginjal yang masih tersisa sudah sangat sedikit, usaha- usaha pengobatan biasa yang berupa diet, pembatasan minum, dan obat-obatan tidak berhasil maka akan memerlukan terapi khusus yaitu hemodialisis (Sidabutar, 1993). Dialisis adalah difusi partikel larut dari satu kompartemen cairan ke kompartemen lain melewati membran semipermiabel. Pada hemodialisis, darah merupakan salah satu kompartemen dan dialisat adalah bagian yang lain. Membran semi permiabel adalah lembar tipis, berpori-pori terbuat dari selulosa atau bahan sintetik. Ukuran pori-pori membran memungkinkan difusi zat dengan berat molekul rendah seperti urea, kreatinin, dan asam urat berdifusi. Molekul air juga sangat kecil dan bergerak bebes melalui membran, tetapi kebanyakan protein plasma, bakteri dan sel-sel darah terlalu besar untuk melewati pori-pori membran. Perbedaan konsentrasi zat pada dua kompartemen disebut gradien konsentrasi. Darah yang mengandung produk sisa seperti urea dan kreatinin, mengalir kedalam kompartemen dialiser atau ginjal buatan, tempat akan bertemu dengan dialisat, yang tidak mengandung urea atau kreatinin. Ditetapkan gradien maksimum sehingga zat ini mengalir dari darah ke dialisat. Aliran berulang darah melalui pada rentang kecepatan 200-400 ml/menit lebih dari 2 - 4 jam mengurangi kadar produk sisa ini menjadi keadaan yang lebih normal (Hudak & Gallo, 1996). Sistim dari hemodialisa akan membuang produk metabolisme protein seperti urea, kreatinin dan asam urat, membuang kelebihan air dengan mempengaruhi tekanan banding antar darah dan bagian cairan, biasanya terdiri atas tekanan positif dalam arus darah dan tekanan negatif (penghisap) dalam kompartemen dialisat (proses ultra filtrasi), mempertahankan atau mengembalikan sistim bufer tubuh dan mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh. Hal-hal yang mempengaruhi pada klien gagal ginjal kronis antara lain : 1.Umur Usia adalah umur individu yang dihitung mulai saat dilahirkan sampai saat ulang tahun (Elisabet, 1995). Semakin meningkat umur seseorang, tingkat kematangan dan kekuatan seeorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya. Semakin tua umur seseorang akan terjadi proses penurunan kemampuan fungsi organ tubuh (regeneratif) akan mempengaruhi dalam mengambil keputusan terutama dalam menangani penyakit gagal ginjal kronis sehingga klien dihadapkan pada masalah yang sangat komplek, hal ini akan menggangu perilaku klien (Hucklo, 1998). 2.Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu (Suwarno, 1992). Jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan itu menuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk menambah ilmu yang dimiliki sehingga memudahkan dalam memperoleh informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatannya. Menurut Y.B Mantra yang dikutip oleh Notoatmojo (1985), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Kuncoroningrat, 1997). Faktor pendidikan seseorang sangat berperan dalam menghadapi kecemasan, karena klien mempunyai pengalaman dalam pendidikan akan lebih mampu mengatasi/menyelesaikan masalah dengan menggunakan koping yang efektif dan kontruktif dari pada seseorang dengan pendidikan rendah (Broewer, 1983). 3.Pekerjaan Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya (Thomas, 1996). Pekerjaan yang membutuhkan waktu untuk duduk yang lama dan terus-menerus cenderung akan mempengaruhi organ tubuh seperti sakit pinggang, kejang-kejang dan tidak lancar buang air kecil hal tersebut karena kurang pergerakan sehingga akan mempengaruhi proses homeostasisnya (Erich, 1996) 4.Sosial ekonomi Sosial ekonomi merupakan pendapatan bruto yang dihasilkan oleh klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Pada klien yang menderita penyakit gagal ginjal kronis memerlukan biaya pengobatan dan perawatan serta motivasi yang tinggi untuk kelangsungan hidupnya (Markum, 1991). 5.Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari pendidikan yang diperoleh, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra klien yang mengalami gagal ginjal kronis. 6.Lamanya sakit Bagi klien yang menderita penyakit kronis mempunyai perasaan bahwa tidak ada obat yang dapat diperoleh untuk penyembuhan penyakitnya, lamanya sakit merupakan hal yang menggagu klien dalam berperan baik sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya maupun sebagai pencari nafkah untuk kelangsungan hidup keluarganya (Eiser, 1990).

3 comments:

yudi mengatakan...

waaah makasih yaaaa.. artikelnya sangat membantu.. saya emang lagi mencari tentang GGK. sekali lg makasih ya

KANDI IRAWAN mengatakan...

Thank ya..!!
kandi irawan
Kutacane

Jhonkarto mengatakan...

ok, sama - sama smoga bermanfaat

Poskan Komentar